Showing posts with label sirahsahabat. Show all posts
Showing posts with label sirahsahabat. Show all posts

Monday, February 20, 2012

Dialah Teman Malam & Pendamping Waktu Sahur

Abdullah Ibnu Umar

Ia habiskan waktu malam untuk shalat, ia terdengar menangis tersedu-sedu memohon ampun dan beristighfar. Saat remaja, ia pernah bermimpi. Lalu mimpi itu ditafsir oleh Rasulullahyang membuat Ibnu Umar menggebu-gebu melakukan Qiyamul Lail.

Apa gerangan mimpinya?

Ia bermimpi seolah-olah di tangannya ada selembar kain beludru. Tempat mana saja di surga yang ia ingini, maka beludru itu menerbangkannya ke surga.

Aku juga melihat 2 orang mendatangiku & ingin membawaku ke neraka. Lalu seorang malaikat mencegatnya & berkata, "Jangan ganggu dia." Maka aku dilepaskan. Saudara perempuanku yang bernama Hafshah menceritakan mimpiku pada Rasulullah. Beliau berkomentar, "Abdullah sangat beruntung, jika ia mau memperbanyak shalat malam."

Sejak saat itu hingga ia wafat, bertemu Tuhannya, ia tidak pernah meninggalkan Qiyamul Lail. Di rumah maupun ketika bepergian.

Sejak saat itu waktunya ia habiskan untuk shalat, membaca Al Qur'an & berdzikir. Ia seperti ayahnya, setiap kali mendengar ayat-ayat Al Qur'an, matanya berderai air mata.

Ubaid bin Umar pernah berkata, "Aku pernah membacakan QS An Nisa ayat 41 kepada Ibnu Umar, Ibnu Umar pun menangis hingga janggutnya basah oleh air mata.

Suatu hari ia duduk diantara kawan-kawannya, lalu membaca Al Muthaffifin ayat 1-6:

"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (1) yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, (2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (3) Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, (4) pada suatu hari yang besar, (5) (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Ia mengulang-ulang ayat ke-6 dan air matanya terus mengalir, sampai ia jatuh pingsan.

Subhanallah semoga kita bisa meneladani beliau untuk bisa istiqhomah shalat di penghujung malam.

Wednesday, February 15, 2012

Utbah bin Ghazwan

Diantara Muslimin yang lebih dulu masuk Islam, diantara Muhajirin yang pertama yang hijrah ke Habsyi, kemudian ke Madinah dan diantara pemanah pilihan yang tak banyak jumlahnya yang telah berjasa besar dijalan Allah, terdapatlah seorang laki-laki yang berperawakan tinggi dengan muka bercahaya dan rendah hati, namanya ‘Utbah bin Ghazwan.

Ia adalah orang ketujuh dari kelompok tujuh perintis yang berbaiat menjabat tangan kanan Rasulullah SAW dengan tangan kanan mereka untuk bersedia menghadapi orang-orang Quraisy yang sedang memegang kekuatan dan kekuasaan serta gemar menuruti hawa nafsu angkara.

Pada hari-hari pertama dimulainya dakwah, dan pada hari penderitaan dan kesukaran, ‘Utbah bersama kawan-kawannya telah memegang teguh suatu prinsip hidup yang mulia yang kemudian kelak menjadi bekal dan makanan bagi hati nurani manusia dan akan berkembang menjadi luas melalui perkembangan masa.

Sewaktu Rasulullah saw menyuruh sahabat-sahabat nya hijrah ke Habsyi, maka ‘Utbah pun termasuk diantara orang-orang Muhajjirin itu. Tetapi kerinduan kepada Nabi saw tidak membiarkannya untuk menetap disana, segeralah ia menjelajahi daratan dan mengarungi lautan untuk kembali ke Mekkah, lalu tinggal disana disamping Rasulullah saw hingga datang saatnya hjijrah ke Madinah, maka ‘Utbah pun hijrah bersama kaum Muslimin lainnya.

Dan semenjak orang-orang Quraisy melakukan gangguan dan melancarkan peperangan, ‘Utbah selalu membawa panah dan tombaknya. Ia melemparkan tombaknya dengan ketepatan yang luar biasa, dan bersama kawan-kawannya, orang-orang mukmin lainnya ia menggunakan panah itu untuk menghancurkan alam hidup dan berpikir dengan berhala dan segala kebohongannya.

Di waktu Rasulullah saw yang mulia wafat menemui Rabb Yang Maha Tinggi, ia belum lagi hendak meletakkan senjatanya, bahkan ia selalu berkelana untuk berperang di muka bumi. Dan ketika berhadapan dengan tentara Persi, ia melakukan perjuangan yang tiada taranya.

Amirul Mukminin ‘Umar mengirimkannya ke Ubullah untuk membebaskan negeri itu dan membersihkan buminya dari orang-orang persi yang menjadikannya sebagai batu loncatan untuk menghancurkan kekuatan Islam yang sedang maju melintas wilayah-wilayah kerajaan Persi, serta untuk membebaskan negeri Allah dan hamba Nya dari cengkeraman penjajahan mereka. Dan berkatalah ‘Umar kepadanya sewaktu melepaskannya bersama tentaranya, “berjalanlah anda bersama anak buah anda hingga sampai batas terdekat negeri Persi! Pergilah dengan restu Allah dan berkah Nya! Serulah ke jalan Allah siapapun yang mau dan bersedia. Dan siapa yang menolak hendaklah ia membayar pajak. Dan bagi setiap penantang maka pedanglah bagiannya tanpa pandang bulu. Tabahlah menghadapi musuh serta bertakwalah kepada Allah.

Pergilah ‘Utbah memimpin pasukannya yang tidak seberapa besar hingga sampai ke Ubullah. Ketika itu orang-orang Persi telah menyiapkan bala tentara mereka yang terkuat. ‘Utbah pun menyusun kekuatannya dan berdiri di muka pasukannya sambil membawa tombak di tangannya yang belum pernah meleset dari sasarannya semenjak ia berkenalan dengan tombak. Ia berseru di tengah-tengah tentaranya, “Allahu Akbar, shadaqa wa’dah, Allah Maha Besar, Dia menepati janjiNya.”

Dan seolah-olah ia dapat membaca apa yang akan terjadi, karena tak lama setelah terjadi pertempuran kecil, Ubullah pun menyerah dan daerahnya dibersihkan dari tentara Persi. Sedangkan penduduknya terbebas dari kekejaman yang selama ini mereka rasakan tak ubahnya seperti neraka, dan benarlah Allah yang Maha Besar itu telah menepati janji-Nya!

Di tempat berdirinya Ubullah itu, ‘Utbah membangun kota Bashrah dengan dilengkapi saran perkotaan termasuk sebuah masjid besar. Dan sekarang ia bermaksud meninggalkan negeri itu dan kembali ke Madinah, menjauhkan diri dari urusan pemerintahan, tapi Amirul Mukminin ‘Umar keberatan dan menyuruhnya untuk tetap disana.
‘Utbah pun memenuhi keinginan khalifah, membimbing rakyat melaksanakan sholat, member pengertian dalam soal agama, menegakkan hukum dengan adil, serta member contoh teladan yang sangat teladan tentang kezuhudan, wara’ dan kesederhanaan. Dengan tekun dikikisnya kemewahan dan sikap berlebih-lebihan sekuat dayanya, sehingga hal itu menjengkelnya yang dipengaruhi oleh nikmat kesenangan dan hawa nafsu.

Pada suatu hari, ‘Utbah pun berdiri berpidato di tengah-tengah mereka, ia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku bersama Rasulullah SAW sebagai salah seorang kelompok tujuh yang tak punya makanan kecuali daun-daun kayu, sehingga bagian dalam mulut kami pecah-pecah dan luka-luka! Di suatu hari aku memperoleh rezeki berupa sehelai baju burdah, lalu kubelah dua, yang sebelah kuberikan kepada Sa’ad bi Malik dan sebelah lagi kupakai untuk diriku.

‘Utbah sangat menakuti dunia yang akan merusak agamanya, dan ia pun menakuti hal yang serupa terhadap kaum Muslimin. Karena itu, ia selalu membimbing mereka kepada kesederhanaan dan hidup bersahaja. Banyak orang yang mencoba hendak mengubah pendiriannya dan membangkitkan dalam jiwanya kesadaran sebagai penguasa serta hak-haknya sebagai seorang penguasa, terutama di negeri-negeri yang raja-rajanya belum terbiasa dengan zuhud dan hidup sederhana, sementara penduduknya menghargai tanda-tanda lahiriah yang berlebihan dan gemerlapan terhadap hal-hal ini, ‘Utbah menjawabnya dengan ucapan, “Aku berlindung diri kepada Allah dari sanjungan orang terhadap diriku, karena kemewahan dunia, tetapi kecil di sisi Allah.”

Dan tatkala dilihatnya rasa keberatan pada wajah-wajah orang banyak karena sikap kerasnya untuk membawa mereka kepada kewajaran dan hidup sederhana, ia pun berkata kepada mereka, ”besok lusa akan kalian lihat pimpinan pemerintahan dipegang oleh orang lain menggantikan aku.”

Dan datanglah musim haji, diwakilkannya pemerintahan Bashrah kepada salah seorang temannya, kemudian ia pergi menunaikan ibadah haji sewaktu ia telah menunaikan ibadahnya, ia pun berangkat ke madinah, dan disana ia memohon kepada Amirul Mukminin agar diperkenankan mengundurkan diri dari pemerintahan.

Tetapi ‘Umar tidak hendak menyia-nyiakan corak kepribadian dari orang-orang zuhud seperti ini yang menjauhkan diri dari barang yang amat didambakan yang menjadi incaran orang-orang lain. Beliau pernah berkata kepada mereka, “apakah kalian hendak menaruh amanah diatas pundakku, kemudian kalian tinggalkan aku memikulnya seorang diri? Tidak! Demi Allah tidak kuizinkan untuk selama-lamanya!”

Dan demikian lah pula yang diucapkannya kepada ‘Utbah bin Ghazwan, sehingga karenanya, mau tak mau ‘Utbah harus patuh dan taat. Maka ia pergi menuju kendaraannya dan menungganginya kembali ke Bashrah.

Tetapi sebelum naik keatas kendaraan itu, ia menghadap kearah kiblat, lalu mengangkat kedua telapak tangannya yang lemah lunglai itu ke langit sambil memohon kepada Allah ‘Azzawajalla agar ia tidak dikembalikan ke Bashrah dan tidak pula kepada pimpinan pemerintahan untuk selama-lamanya dan doanya pun dikabulkan oleh Allah sewaktu ia dalam perjalanan ke wilayah pemerintahannya maut datang menjemputnya. Roh nya naik ke pangkuan ciptaannya, bersuka cita dengan perngorbanan, darma baktinya, kezuhudan dan kesahajaan. Begitupun karena nikmat yang telah disempurnakan Nya dan oleh karena pahala yng telah disediakan-Nya untuk dirinya.

Dikutip dari : Serial Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah

Monday, February 13, 2012

Salman Al Farisi, Pemimpin Yang Rendah Hati

Alkisah suatu hari, ketika sedang berjalan, Salman Al Farisi berjumpa dengan seorang laki-laki dari negeri Syam yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat dan melelahkannya. Ketika itu Salman berpenampilan biasa dan tampak seperti dari golongan orang tak punya. Laki-laki itu berpikir hendak menyuruh Salman membawa buah-buahan yang dipikulnya dengan imbalan yang pantas sesampainya di tujuan.
Laki-laki itu memanggil Salman dan Salman mendekat. Laki-laki itu berkata pada Salman, “tolong bawakan barangku ini!” Maka Salman mengangkat barang itu dan mereka berdua berjalan bersama-sama.

Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan satu rombongan. Salman mengucapkan salam pada rombongan tersebut. Rombongan itu berhendi dan menjawab salamnya, “kesejahteraan untuk Walikota.”

Laki-laki Syam itu berkata dalam hati, “juga kepada Walikota? Siapa yang mereka maksud?” Keheranannya semakin bertambah ketika beberpa orang dari rombongan itu bergegas mendekat dan berkata, “biarkan kami yang membawanya.”

Barulah laki-laki Syam tersebut sadar, bahwa kuli panggulnya itu adalah Salman Al Farisi, Walikota Madain. Ia menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf mengalir dari bibirnya. Dia mendekat hendak mengambil barang yang dipikul oleh Salman Al Farisi, tetapi Salman menolak. Ia berkata, “tidak, biar kuantar sampai rumahmu.”

Thursday, February 02, 2012

Mush’ab Bin Umair, Duta Islam Yang Pertama

Beliau adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Seorang remaja Quraisy paling menonjol, paling tampan dan paling bersemangat. Beliau adalah pemuda Mekah yang menjadi sanjungan semua orang. Biasa dikenal dengan nama Mush’ab Al Khair. Sebelum masuk Islam, pakaiannya ibarat bunga di taman, menebarkan aroma wewangian. Semua itu ditanggalkannya demi cintanya pada Allah dan RasulNya.

Alkisah suatu hari ibunya mengusir Mush’ab Umair dari rumah karena tahu bahwa dirinya telah masuk Islam. “Pergilah sesuka hatimu. Aku bukan ibumu lagi.” Mush’ab menghampiri ibunya dan berkata, “wahai ibu, aku sangat sayang kepadamu. Karena itu, bersaksilah bahwa tiada Tuhan selain Allah & Muhammad utusan Allah.”

Ibunya menjawab dengan penuh amarah, “demi binta gemintang, aku tidak akan masuk Islam. Otakku bisa rusak dan buah pikiranku tak akan diindahkan orang lain.”

Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dimiliki orang tuanya, memilih hidup miskin dan kekurangan. Jiwanya yang telah dihiasi akidah suci dan cahaya Illahi, mengubah dirinya menjadi seorang manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.

Berbekal kecerdasan dan akhlak mulia yang dikaruniakan Allah padanya, Rasulullah menugaskannya untuk mengajar agama Islam pada orang-orang Anshar yang telah masuk Islam.

Dengan sifat zuhud, kejujuran dan keikhlasan, ia berhasil memikat hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Saat ia datang ke Madinah, jumlah orang Islam hanya 12 orang. Pada musim haji berikutnya, kaum Muslimin Madinah mengirim rombongan berjumlah 70 orang untuk menemui Nabi.

Itulah sebabnya beliau mendapat gelar, Duta Islam yang pertama.