Wednesday, January 31, 2007

Berburu Tanda Tangan

Selesai skripsi terus langsung resepsi oups revisi maksudnya. Masih bolak balik ke kampus berburu tanda tangan dosen2 ganteng. Harus punya extra kesabaran saat berburu tanda tangan. Dan bersikap semanis mungkin di depan para dosen. Soale mereka kan pasti capek seharian nyidang dan yg berburu tanda tangan mereka ratusan mahasiswa.

Alhamdulillah revisi dah beres dan lagi di hard cover. Semoga minggu ini urusan skripsi beres. Biar tenang dan tinggal bayar wisuda.

Oh iya, kemaren pas skripsi bener2 butuh tenaga, waktu, biaya extra dan extra yang lainnya. Sampe dibela2in beli hape jadul yg rencananya mo dipake buat skripsi. Tapi hapenya gak mau diajak kerjasama, akhirnya terpaksa pinjem sama Andi Belutz. Itu hape dari mau skripsi sampe hari ini masih juga blom dibenerin. Belinya sih sama temen, dah perjanjian kalo selesai skripsi hapenya bisa dijual lagi sama dia. Dan ternyata dia beli lagi sama orang lain sebut aja Mas Omdo. Nah temen nyerahin semuanya ke mas Omdo ini yg kebetulan buka kios hape di pojokan kampus. Tiap hari nyambangi kiosnya utk nanya kondisi hape. Jawabannya, belum, lupa, gak sempet, banyak kerjaan. Pokoknya ngebetein banget.

Akhirnya semalem itu hape dia kembalikan dg kondisi yg masih mengenaskan. Mas Omdo, kok tega seh nipu anak yatim? Semoga Allah membukakan mata hatinya dan segera menyadarkannya. Biar gak ada lagi yg ditipu kek saya.

Monday, January 29, 2007

Museum Fatahillah Di Malam Hari

Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710. Bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.

Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

Pertama kali kesini waktu jaman SD pas study tour, dah lama banget euy. Hari Sabtu kemaren berkunjung lagi kesana tapi pas malam hari. Waaaah rame loh ternyata, tapi hanya di luar Museum aja. Karena Museumnya udah tutup. Saat itu banyak sekali anak2 ABG yang berdandan layaknya seorang putri sedang bergaya di depan kamera. Aku pikir ada acara pemotretan dari Majalah Remaja mana gitu, ternyata mereka foto disana untuk diabadikan di buku tahunan. Waaaah keren bo. Jaman sekolah dulu buku tahunannya cuma dari foto 4 x 6 aja.

Kami pun gak mau ikut ketinggalan untuk berpose di sekitar gedung Museum. Jadi Museum Fatahillah di malam hari menjadi objek foto yang digemari banyak orang. Termasuk saya dan teman-teman. Ada yang punya referensi objek yang bagus lagi? Mau donk informasinya ;)

Friday, January 26, 2007

Ide Segar Dari Kota Tua

Selesai skripsi, ini otak bener2 buntu ide. Mo posting aja bingung euy merangkai kata2 dan apa yg mau diposting. Hari Rabu ada "Bos" yang ngajakin refreshing ke Pelabuhan Sunda Kelapa (PSK) dan Jembatan Kota Intan (JKI). Pucuk dicinta ulam pun tiba. Lagi buntu ide, diajak refreshing. Siapa juga yang nolak euy. Bos ngajak kabur dari kantor pas jam istirahat. Gilingan tebu dah, bisa2 langsung dipecat deh. Akhirnya deal setelah jam pulang kantor. Namanya juga Bos, dia nyuruh ajudannya untuk jemput Bidadari di kantornya daerah Meruya. Trus Bos itu nunggu di depan halte Depdiknas.

Berhubung sang ajudan gak baca dg teliti isi sms dari Bos, akhirnya pulang ke rumah dulu ngambil digicam (digital camera). Langsung deh minta sang ajudan untuk memacu kuda besinya dengan kecepatan penuh, tapi sayang kuda besinya cuma bisa jalan santai banget. Sekitar jam 17.00 baru deh nyampe di depan halte Depdiknas. Bos dah nunggu lama rupanya. Langsung deh meluncur ke Kuitang. Bos mo beli buku untuk hadiah someone very special.

Sampe Kuitang, Bos langsung melangkahkan kakinya ke sebuah toko buku. Sepertinya toko langganan tuh, soale dah akrab sama penjualnya. Dia sebutin 2 judul buku "Ayat-Ayat Cinta" dan "Keluarga Sakinah". Bos curang, nawarin kita makan tapi dia gak makan. Gaya banget euy, pake diet segala. :P Abis makan langsung meluncur ke Pelabuhan Sunda Kelapa (PSK). Dua kuda besi meluncur menuju ke salah satu Mesjid yang ada di PSK, tapi aku gak mau soale gak ada bidadari lagi selain aku hehehehe. Aku minta Bos untuk sholat di kantor KPLP (Kepolisian Penjagaan Laut dan Pantai) seperti waktu pertama kali kesana. Sekalian mo nostalgia sama almarhum Bapak yang pernah dinas disitu. Lagi kangen nih sama bapak. Waktu kita dateng ada 5 orang bapak2 yang lagi ngobrol di luar kantor dg seragam KPLP. Kita cuek aja masuk mushollanya, pas mau masuk musholla ada seorang ibu berseragam KPLP yg baru selesai sholat. Aku minta ijin sama beliau untuk sholat.

Abis sholat kita meluncur ke dermaga. Sayang banget dah gelap, jadi gak keliatan objek yg bagus. Kebetulan di salah satu pojok dermaga ada pancaran lampu yang cukup memberi penerangan keadaan di sekitar. Akhirnya kita berfoto ria disitu. Orang2 di sekitar situ pada ngeliatin kita yg dengan cueknya bergaya di depan kamera :). Penyesalan waktu pertama kali kesini terbalaskan sudah. Soale waktu pertama kali kesitu gak punya kamera.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa konon sudah ada sejak abad ke-12. Kala itu pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk milik kerajaan Hindu terakhir di Jawa Barat, Pajajaran, terletak dekat Kota Bogor sekarang. Kapal-kapal asing yang berasal dari China, Jepang, India Selatan, dan Arab sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi kekayaan tanah air saat itu. Bahkan, pada abad ke-15 sempat diperebutkan berbagai bangsa, seperti Portugis, Inggris, dan Belanda. Pada saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa direncanakan menjadi kawasan wisata karena nilai sejarahnya yang tinggi. Saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan yang dikelola oleh PT Pelindo II yang tidak disertifikasi International Ship and Port Security karena sifat pelayanan jasanya hanya untuk kapal antar pulau.
Selain itu Pelabuhan ini direncanakan akan menjalani reklamasi pantai untuk pembangunan terminal multifungsi Ancol Timur sebesar 500 hektar. Setelah beberapa lama disitu, kita meluncur ke Jembatan Kota Intan.

Dari situ kita meluncur ke Jembatan Kota Intan. Jembatan (gantung) Kota Intan dahulu mempunyai fungsi yang penting sebagai sarana penyebrangan. Berlokasi dekat Hotel Batavia, Jl. Kali Besar Barat. Jembatan tua peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1628 itu menghubungkan sisi timur dan barat Kota Intan di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Utara. Namun, jembatan yang hampir semuanya terbuat dari kayu tersebut sekarang tidak berfungsi lagi. Merujuk sejarah, jembatan di kawasan Kota Intan ini pernah lima kali berganti nama. Pada tahun 1938 di masa pemerintahan Ratu Juliana, jembatan direnovasi dan namanya diubah menjadi Jembatan Ratu Juliana (Ophaalsburg Juliana). Nama akhirnya berubah menjadi Jembatan Kota Intan karena di kawasan tersebut terdapat kastil Batavia bernama `Diamond`.

Sayang seribu kali sayang, batre kamera gak mendukung. Baru dapet beberapa objek dah abis batrenya. Kalo batre blom abis, dijamin bakalan sampe malem deh disana. Akhirnya dengan sangat terpaksa meninggalkan tempat itu dengan sedikit rasa kecewa dan langsung meluncur ke rumah. Senang euy dapat ide segar setelah perjalanan yg berlangsung secara dadakan. Gak sabar nunggu travelling berikutnya ;)

Hasil jepretannya ada di my gallery.